Minggu, 16 Maret 2014

Asal mula Kerajaan cokromundhojiawasisto di tanah Blora jawa tengah.




Asal mula Kerajaan cokromundhojiawasisto di tanah Blora jawa tengah.





pada zaman dahulu, tinggalah seorang laki- laki dan perempuan di sebuah desa kecil yang berada di kota Blora. Namanya Nyai Gundrewangi  dan Raden Mas Muhammad Bagus Notokusumo. Sebenarnya keduanya ini tidak berasal dari daerah kota Blora itu sendiri, melainkan asli dari daerah jawa timur( sebelah timur kota blora).  Mereka menetep tinggal di kota Blora karena mendapat tugas dari kerajaan untuk menyebarkan kebajikan di daerah kota Blora. Nyai Gundrewangi merupakan putri tunggal seorang patih kerajaan, yang bernama Raden Muhammad Joyoknomundonisajo dari kerajaan Mojositonengmadyio daerah jawa timur. Dan Raden Muhammad Bagus Notokusumo merupakan putra kedua dari raja Okchowasito. seorang raja kerajaan Mongarjatisemiko yang bijaksana dan sangat disegani banyak orang pada masanya. Konon, katanya Raden Muhammad Joyoknomundonisajo memiliki sebuah kejadukan ilmu yang tidak dimiliki layaknya orang awam. Orang sakti mengatakan ilmu yang dimilikinya adalah ilmu “Godhoaningbutorojokuintinawosodo”  ilmu aneh yang mengherankan banyak orang. Karena ilmu ini dimiliki sejak lahir tanpa di pelajari sedikitpun. Sejak lahir Raden Mas Muhammad Bagus notokusumo  dititipkan dan di besarkan di kalangan pondok kuno yang telah didirikan romo K.H. Agus Salim Al Mughidi. Karena disiplinya perturan disebuh pondok yang mana santri putra dengan santri putri sama sekali tidak boleh bertemu, sehingga sampai berusia 27 tahun berada di pondok tersebut ia tidak mengenal satupun dari banyaknya santrui putri yang ada pada pondok kuno tersebut. Selama di pondok tersebut banyak guru - gurunya yang terkagum kagum oleh Raden Mas Muhammad Bagus Notokusumo. karena ketika di ajar dia bisa langsung menerima dan menyerap semua ilmu yang telah diajarkanya. Bahkan ketika ada gurunya yang masih kesulitan memahami kitab, ia meminta izin untuk menjelaskanya. Hal tersebut membuat guru - gurunya kurang percaya benar tidaknya apa yang telah dijelaskanya. Kemudain untuk membuktikan kebenaranya salah seoarang dari gurunya menanyakan kepad Romo K.H. Agus Salim Al Mughidi , pengasuh pondok kuno tersebut sekaligus ahli tafsir. Ternyata penjelasan yang telah di sampaikan Raden Mas Muhammad Bagus Notokusumo dinyatakan benar. Dan sejak kejadian peristiwa itu Raden Mas Muhammad Bagus Notokusumo dijadikaan pengurus pondok sekaligus penasehat di pondok terebut. Mungkin Mas Muhammad Bagus Notokusumo telah memiliki ilmu Laduni, sehingga ia kelihatan sangat berbeda dengan santri santri lainya dalam mengolah pikiran. Pada waktu itu tiba - tiba ada seklompok prajurit utusan dari kerajaan Mongarjatisemiko menghantarkan surat dari sang raja yang ditujukan kepada Romo K.H. Agus salim Al Mughidi yang isinya untuk mencarikan jodoh putranya wanita yang sholehah dari kalangan pondok kunonya, karena menurut sangraja putra keduanya sudah dewasa dan pantas menikah. Keberadaan pondok kuno yang didirikannya berada dibawah kekuasaan kerajaan Sang Raja, maka Romo K.H. Agus Salim al Mughidi tidak berani menolak apa yang telah di perintahkan oleh Sang Raja. Kemudin dicarikanlah jodoh dari kalangan pondok kunonya untuk diperkanalkan dengan Nyaigundrewangi dan dinikahkan.
Setelah pesta pernikahan di langsungkan, mereka mendapat perintah dari sang Raja untuk menyebarkan kebajikan di daerah kota Blora, yang letaknya disebelah barat dari kerajaan. Kemudian keduanya meninggalkan kerajaan menjalankan perintah dari kerajaan dan memutuskan untuk menetap di kota Blora. Di daerah itu mereka di trima dengan baik oleh masyarakat sekitar karena mereka tampak orang baik dan utusan dari sebuah kerajaan terkenal. Setelah dua tahun kemudian Nyai Gundrewangi melahirkan putra pertama. Tapi suasana malam itu terasa sangat aneh beda dengan malam – malam biasanya, begitulah yang telah di rasakan masyarakat di desa itu. Ternyata nyai gundrewangi tidak melahirkan layaknya bayi pada umumnya. Tapi bayi yang di lahirkanya itu memiliki enam pusar, enam unyeng unyeng, beranbut panjang, memiliki sedikit ekor dan matanya bersinar bewarna merah. Awalnya nyai dan sang raden kaget  dan takut dengan keberadaan bayinya bahkan banyak masyarakat yang mencaci maki mereka mengatakan bayi itu bayi siluman. Mereka juga bertanya - tanya apakah benar itu bayi yang telah dilahirkan Nyai, sepertinya tidak mungkin orang kerajaan wanita sholehah melahirkan putra siluman. Tetapi sang Raden dan Nyai tidak gegabah marah kepada semua masyarakat yang telah mencacimaki tersebut. Mereka tetap tegar dan menerima nasib dengan keberadaan yang telah menimpa pada dirinya.
Setelah tujuh tahun kemudian, sang Raden dan Nyai Gundrewangi memiliki hajad yaitu dalam rangka menghitankan putra pertamanya tersebut. Ketika melakukan khitan tiba – tiba calak yang menghitan putranya tersebut takut lari terbirit – birit dari dalam kamar( tempat khitan).
Sang Raden: wahai ki sana, kenapa engkau lari terbirit – birit?
                    Apakah tugasmu sudah selesai?
Pak calak: maaf tuan, saya tidak sanggup menjalankan tugas saya atas printah tuan.
Sang Raden: ada apa dengan putraku ki sana?
Pak calak: anu tuan,,,semua alat yang saya miliki tidak bisa untuk menghitan putra tuan, semuanya telah saya coba. Padahal semuaya sudah saya ungkal menjadi tajam namun tetap tidak bisa.baru kali ini saya menemui peristiwa ini tuan.saya pamit pulang tuan.maaf tuan saya tidak sanggup.
Sang Raden hampir tidak percaya dengan hal yang terjadi pada kejadian hari itu, ia merasa putra nya itu sangat aneh. Sang Raden pun tidak putus asa begitu saja ia mencoba menari calak yang lain yang lebih berpengalaman,Tapi hasilnya pun juga sama.
Pada malam hari setelah kejadian itu, dalam tidurnya sang Raden bermimpi di datangi seorang laki – laki berjobah putih dalam mimpinya orang tersebut mengatakan sesuatu yang isinya untuk memerintahkan putranya untuk bertapa di sebuah Goa yang berada di bawah gunung Kaloka.beliau juga mengatakan bahwa putanya itu telah dirasuki siluman. Kemudian pada keesokan harinya sang Radenpun memerintahkan putranya untuk bertapa menuruti printah orang sakti berjobah putih dalam mimpinya itu.
Sang Raden: wahai putraku....pergilah kamu di goa bawah gunung kaloka, bertapalah disana jika kamu sudah merasa ada perubahan pada dirimu kembalilah kesini.
Durhayoko: iya ayah anda, aya akan menjalankan itu,saya pamit ayahanda.
Setelah beberapa tahun kemudian, durhayuko pun pulang namun ia sekarang terlihat tua. Bahkan rambut dan jenggotnya panjangnya sampai nempel tanah dan terlihat seram. Namun sekarang ia sudah tidak lagi berekor lagi dan sorotan cahaya merah di matanya sudah hilang.
Durhayuko: assalamualaikum,,,,,,3x
Nyai: waalaikumussalam,,,,,,siapa ki sana? Adaperlu apa kamu kemari?
Durhayuko: saya putramu bunda,,,,
Nyai: putraku?....tidak mungkin ,,,dia sudah mati beberapa tahun yang lalu,ia mati dimakan binatang buas digunung kaloka,ia tidak pernah memberi kabar kepada kami,dan ia pun berbeda dengan kamu,,ia memiliki ekor,matanya merah.
Durhayuko: Saya putra bunda,,,,,sungguh,,,sungguh..
Sang Raden: jika kamu putra kami coba buktikan kepada kami,,,datangkan semua jenis binatang yang ada di hutan sana.Jika kamu mampu maka kamu kita akui sebagai putra kami yang dulu bertapa di gunung kaloka.
Kemudian didatangkanlah semua jenis hewan yang ada di hutan tersebut, ada harimau,kancil,macan,gajah,jerapah dll. Ia telah mendapatkan kesaktian dari tapanya tanpa ia sadari kekuatan alam telah menyatu pada dirinya.sehingga ia dapat memanggil semua jenis hewan yang ada pada hutan terrsebut.
Setelah kejadian itu sang Raden dan Nyai percaya jika orang berambut dan berjenggot panjang tersebut adalah putranya.dan pada hari itu juga durhayuko sudah dapat dikhitan dan di cukurlah rambut dan jenggotnya.ia telah terlepas dari gangguan siluman dan setelah kejadian itu durhayuko ditrima masyarakat dengan baik. Bahkan ia di anggkat menjadi raja di daerah tersebut. Dan daerah kekuasaanyapun sangat maju dan makmur.kerajaan tersebut di namakan Kerajaan cokromundhojiawasisto.


Oleh: Khoirudin Azis,,

Minggu, 23 Februari 2014

STAI AL ANWAR SARANG REMBANG (Pencarian Jatidiri )





Pencarian Jati Diri Di STAI Al Anwar Sarang Rembang

Karangan Eksposisi
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu:
MIFTAHUL HUDA, S.S.,M.A.



Disusun Oleh:
Khoirudin Azis







PROGRAM STUDI ILMU AL QUR’AN DAN TAFSIR
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL ANWAR SARANG REMBANG
2013







Pencarian Jati Diri Di STAI Al Anwar Sarang Rembang


My name is Khoirudin Azis, From Blora City 






               Nama saya khoirudin Azis. Awalnya saya bersekolah di Smk N 2 Blora. Saya bersekolah di Smk N 2 Blora atas dorongan motivasi dari saudara laki-laki saya. Dia memiliki anggapan bahwa,  jika melanjutkan di SMK (sekolah menengah kejuruan) tidak hanya akan mendapatkan ilmu pengetahuan saja, melainkan juga akan mendapatkan suatu ketrampilan yang khusus (skill). Sehingga dengan ketrampilan itu ketika telah lulus nanti  siswa dapat langsung bekerja dengan baik sesuai dengan jurusannya. Selain itu siswa lulusan dari SMK juga dapat melanjutkan di perguruan tinggi seperti lulusan sekolah lainya. Dan di SMK N 2 Blora saya mengambil program studi marketing managemen.


            Setelah saya lulus dari SMK N 2 Blora, saya mencoba melamar kerja disebuah perusahaan yang ada di daerah kota  Blora. Namanya PT Sarana Jati Perkasa, yang bergerak dibidang pengolahan kayu jati dan produknya 100 % dikirim ke luar negri. Setelah satu minggu dari pendaftaran, saya di minta untuk datang ke perusahaan tersebut untuk interviu dan pada ahirnya saya ditrima menjadi pegawai di perusahaan tersebut pada bagian staf (supervasior). Setelah bekerja tiga bulan di perusahaan tersebut, saya mempunyai keinginan untuk tidak bekerja terlebih dahulu. Saya mempunyai keinginan untuk melanjutkan belajar dijenjang yang lebih tinggi. Selain itu saya juga mempunyai keinginan untuk melanjutkan  belajar di pondok pesantren. Kemudian saya mencari informasi yang memuat mengenai perguruan tinggi dan pondok pesantren . Banyak brosur yang telah saya kumpulkan yang sekiranya memuat mengenai perguruan tinggi dan pondok pesantren. Tetapi banyaknya brosur yang saya kumpulkan yang memuat mengenai perguruan tunggi dan pondok pesantren tersebut belum ada yang menarik perhatian saya untuk mendaftar di perguruan tinggi dan pondok pesantren yang termuat di dalam brosur tersebut. Kemudian saya mencari informasi lagi mengenai perguruan tinggi dan pondok pesantren di internet. Dan usaha saya tersebut Alhamdulillah tidak sia - sia. Saya menemukan informasi mengenai perguruan tinggi yang sekaligus berada disuatu pondok pesantren.


            Perguruan tinggi tersebut bernama STAI  Al Anwar Sarang Rembang. Dan pondok pesantrenya bernama pondok pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang, yang telah didirikan oleh K. H.  Maimoen Zubbair. Salah satu ulama ahli qiroatul kutubussalaf ( kitab kuning ) karismatik dari Jawa tengah.


            Dinamakan pondok  pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang karena sebelumnya sudah didirikan pondok pesantren Al Anwar 1 Sarang Rembang dan pondok pesantren Al Anwar 2 Sarang Rembang. Dimana pondok pesantren Al Anwar 1 Sarang Rembang disediakan khusus untuk para santriwan dan santriwati yang ingin menimba ilmu kitab salaf ( kitab kuning ) saja yang diasuh langsung oleh  K.H. Maimoen Zubbair (pendiri). Sedangkan pondok pesantren Al Anwar 2 Sarang Rembang disediakan untuk santriwan dan santriwati ditingkat MTS  dan MA. Pengasuhhnya ialah K.H. Abdullah Ubab Maimoen (putra pertama K.H . Maimoen Zubbair). Dan pondok pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang disediakan khusus untuk santriwan dan santriwati ditingkat kuliah. Dan pengasuhnya adalah K.H. Adul Gofur Maimoen, putra K.H. Maimoen Zubbair juga. Kemudian informasi yang saya peroleh dari internet tersebut saya ceritakan kepada kedua orang tua saya. Dan saya meminta pertimbangan kepada kedua orang tua saya, bagaimana jika saya melanjutkan kuliah di STAI Al Anwar Sarang Rembang dan sekaligus belajar di pondok pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang. Apa yang telah saya sampaikan kepada kedua orang tua saya tadi ditanggapi dengan baik. Dan saya diminta untuk segera datang ke STAI Al Anwar Sarang Rembang untuk memastikan kebenaran informasi yang telah saya dapat tentang STAI Al Anwar Sarang Rembang tersebut


            Kemudain, kesokan harinya saya meminta tolong saudara sepupu saya  untuk menemani datang ke STAI  Al Anwar Sarang Rembang. Setelah saya dan saudara sampai di STAI Alanwar Sarang Rembang, saya melihat sekelompok mahasiswa yang sedang asyik berdiskusi, tempatnya di Mushola yang letakya di lantai satu gedung utara STAI Al Anwar Sarang Rembang. Saya sempat mendengarkan dan mengamati sebentar apa yang telah mereka diskusikan. Mereka berdiskusi dengan semangat sekali. Dan pada saat berdiskusi mereka didampingi oleh salah satu dosen . setelah melihat


mereka berdiskusi dengan semangat saya merasa tambah termotivasi olehnya. Kemudian saya dan saudara saya menuju dan masuk ke kantor STAI Al Anwar Sarang Rembang. Disitu kami bertemu dengan bapak Sofa, bapak Niam dan bapak Ali Murtadlo, pegawai Staf di kantor STAI Al Anwar Sarang Rembang. Oleh mereka kami di jelaskan secara detail mengenai STAI Al Anwar Sarang Rembang, baik cara pendaftaran, persyaratan - persyaratan, dll. Setelah saya paham penjelasan - penjelasan apa yang telah disampaikan bapak sofa,bapak Niam dan bapak Ali Murtadlo, saya meminta izin untuk pulang.


            Setelah saya sampai di rumah, saya langsung menjelaskan informasi – informasi yang telah saya dapat tersebut kepada kedua orang tua saya. Setelah mereka paham informasi – informasi yang telah saya sampaikan tersebut, ahirnya saya diizinkan untuk melanjutkan belajar di STAI AL Anwar Sarang Rembang dan di pondok pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang. Setelah orang tua saya positiv mengizinkan saya untuk belajar di STAI Al Anwar Sarang Rembang dan di Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang tersebut, saya segea membuat surat pengunduran diri bekerja. Dan pada keesokan harinya saya pergi ke perusahaan PT Sarana Jati Perkasa Blora untu menemui  manajer perusahaan. Dan saya minta izin mengundurkan diri dari bekerja dan memohon maaf kepadaa semua karyawan PT Sarana Jati Perkasa Blora bila ada beberapa kesalahan yang saya lakukan selama menjadi pegawai perusahaan tersebut. Karena di perusahaan itu saya sudah mengenal semua kariawanya, ketika saya akan meninggalkan mereka terasa ada yang hilang dalam hidup saya. Bahkan dari mereka ada yang meneteskan air mata ketika saya akan meninggalkan perusahaan, mungkin karena kita di situ sudah seperti keluarga sehingga terasa ada yang hilang.


            Pada keesokan harinya saya bersama ayah saya berangkat ke STAI  Al Anwa Sarang Rembang untuk melakukan pendaftaran kuliah. Setelah sampai di STAI  Al Anwar Sarang Rembang saya dan ayah saya langsung menuju ke kantor STAI  Al Anwar sarang rembang. Di situ kami bertemu dengan bapak sofa, bapak Niam dan bapak Ali Murtadlo lagi, kemudian saya melakukan pendaftaran dan melengkapi semua berkas - berkas persyaratanya. Setelah saya selesai melakukan pendaftaran dan melengkapi semua berkas - berkas persyaratanya, saya diberikan lampiran kertas yang isinya soal - soal untuk menguji kemampuan saya dan juga sebagai penentu ditrima tidaknya saya menjadi mahasiswa di STAI  Al Anwar  Sarang Rembang.


            Pada saat saya mengerjakan soal - soal tersebut ada beberapa soal yang saya merasa kesulitan kususnya pada soal yang memuat teori keagamaan, menurut saya itu merupakan hal yang wajar karena saya bukan merupakan lulusan dari suatu pondok pesantren seperti yang lainya, melainkan lulusan dari smk ( sekolah menengah kejuruan),yaitu SMK N 2 Blora. Tetapi dengan tidak menyerah dan dengan tetap semangat karena keinginan saya untuk ditrima begitu besar, saya tetap semangat berusaha untuk mengerjakan soal - soal tersebut dengan seluruh kemampuan saya sendiri yang saya iringi dengan do’a. Dan pada ahirnya saya dapat menyelesaikan soal - soal tersebut dengan kemampuan saya sendiri, dengan bekal pengalaman mengaji di sebuah madrasah yang berada di dekat rumah saya.  Kemudian lampiran soal - soal dan jawaban itu saya serahkan kepada bapak Ali Murtadlo. Kemudian saya dan ayah saya izin pulang. Seminggu setelah itu, bertepatan dengan hari pengumuman ditrima atau tidaknya calon mahasiswa dan mahasiswi, saya menghubungi bapak Sofa dengan menelfonya, dengan maksud menanyakan ditrima atau tidaknya saya menjadi mahasiswa di STAI Al Anwar Sarang Rembang.  Dan Alhamdulillah, ternyata saya di nyatakan ditrima menjadi mahasiswa di  STAI Al Anwar Sarang Rembang. Dan kemudian bapak Sofa meminta saya untuk segera datang dan melakukan Registrasi.


            Pada keesokan harinya, saya dan keluarga saya  pergi ke STAI Al Anwar Sarang Rembang untuk  registrasi dan membawakan perlengkapan - perlengkapan yang sekiranya saya butuhkan di STAI Al Anwar Sarna Rembang.  Setelah sampai di STAI Al Anwar Sarang Rembang saya dan keluarga saya langsung menuju  ke kantor  STAI Al Anwar Sarang Rembang  untuk melakukan registrasi kuliah. Setelah itu saya dan keluarga saya menuju ke kantor pondok pesantren Al  Anwar 3 Rarang Rembang yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari kontor STAI  Al Anwar Sarang Rembang untuk melakukan pendaftaran pondok dan melengkapi semua persyaratan - persyaratanya. Di kantor.


            pondok pesantren al anwar 3 Rarang Rembang tersebut kami bertemu dengan bapak Arofik ( ketua pondok) dan bapak Amin Sidiq Al Hafidz ( bendahara pondok). Dan mulai pada hari itulah saya saya menjadi mahasiswa di STAI Al Anwar Sarang Rembang dan menjadi santri di pondok pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang. Dan alasan saya  memilih kuliah di STAI Al Anwar Sarang Rembang dan memilih belajar di pondok pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang  karena saya ingin memperluas ilmu pengetahuan kususnya diilmu keagamaan, yaitu agama islam.

Selasa, 21 Januari 2014

Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah, dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik.
Dalam forum seperti itu, Pondok Pesantren Al-Anwar (di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah) sangat disegani. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah K.H. Maimoen Zoebair.
Meski sudah sangat sepuh, 78 tahun, alumnus Ma’had Syaikh Yasin Al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da subuh dan ashar, Mbah Maimoen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren.
Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.

Ia memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren, dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah, dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.
Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU dan PPP, yang sowan minta fatwa politik, nasihat, atau sekadar silaturahmi. Ia memang salah seorang sesepuh warga nahdliyin yang bernaung di bawah partai berlambang Ka’bah itu.
Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa di antara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti K.H. Habib Abdullah Zaki bin Syaikh Al-Kaff (Bandung), K.H. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), K.H. Hafidz (Mojokerto), K.H. Hamzah Ibrahim, K.H. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), K.H. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), dan masih banyak lagi.
Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.
Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya, adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.
Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.
Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.
Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara' yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa'id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.
Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, Beliau sudah hafal diluar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi'I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.Pada tahun kemerdekaan, Beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, Beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi.
Di pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.Tanpa kenal batas, Beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu'aib.
Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain Sayyid 'Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadani dan masih banyak lagi.
Dua tahun lebih Beliau menetap di Makkah Al- Mukarromah. Sekembalinya dari Tanah suci, Beliau masih melanjutkan semangatnya untuk "ngangsu kaweruh" yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, Belaiau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama' besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidlowi (mertua beliau), serta KH. Ma'shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma'shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abul Fadhol, Senori.
Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman Beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.Selain mengajar dan berdakwah, ia masih sempat menulis kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab yang dibuatkan taqrirat olehnya, antara lain, Jawharut Tauhid, Ba’dul ‘Amali, Alfiyah. Sedangkan kitab yang dibuatkan syarah, Syarah ‘Imriti. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren Al-Anwar.
Keharuman nama dan kebesaran Beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil "jadi orang" karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren Beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang Belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa Beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari Beliau.
Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi Beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat. Amin.
Sumber  : http://zahrotul-zahra.blogspot.com/2012/05/kh-maimun-zubair.html